Sampai saat ini belum ada pengertian yang baku tentang desain yang baik, tapi setidaknya ada tiga kriteria tentang desain yang baik .. yang pertama adalah " it works "mencapai tujuannya.. apa yang kita sampaikan dalam desain tersebut sampai kepada orang yang kita tuju, kalo bahsa marketingnya target market, atau "target_blank", eh itu mah bahasa pemrograman ya.. hihihii jadi khalayak atau targer market kita tidak perlu berfikir keras untuk memahami apa yang mau kita sampaikan..
yang kedua.. "it attracts" menarik bagi pengguna, selain orang memahami yang kita sampaikan, karena desain yang menarik dia juga akan dengan senang hati berlama-lama dengan desain yang kita buat.. coba kita bandingkan ' antara majalah fashion dengan majalah bisnis misalnya. mana yang kamu lebih suka..
yang ketiga " it organizes " tertata dengan baik, komponen komponen seperti gambar, tertata secara baik dan artistik, biasanya orang akan melihat dari urutan yang paling besar ke yang terkecil . nah keteraturan dari desain itu, orang akan dengan mudah berpindah dari satu objek ke objek yang lain, tanpa menghilangkan makna yang mau kita sampaikan...
terakhir buat yang mau bikin desain majalah, or brosur, web ato mau foto wedding.. gue bisa bantu,.. hii promosi...
Selengkapnya...
05 November 2009
Kategori Iklan Baik
04 November 2009
Pertunjukan Puisi Asrizal Nur
Dalam upaya memberikan inovasi dan kontribusi pada dunia sastra Indonesia dengan mengangkat baca puisi menjadi usaha seni pertunjukan yang berwibawa dan spektakuler, Asrizal Nur kembali akan tampil di Graha Bakti Budaya PKJ-TIM. Pertunjukan Puisi Asrizal Nur ini adalah pertunjukan yang sudah tertunda selama sepuluh tahun, untuk menggairahkan dunia panggung sastra yang agak lesu setelah beberapa penyair panggung senior telah sepuh dan wafat.
Pertunjukan puisi Asrizal Nur yang akan digelar Tanggal 9 Desember 2009 pukul 20.00 WIB ini, berkolaborasi dengan seni tari, teater, musik, lagu, seni rupa dan audio visual menggunakan tekhnologi animasi dengan LCD berukuran besar dan efek lainnya, serta nuansa pembacaan empat zaman. Yakni zaman purba, klasik, tradisi, dan moderen. Pengantar acara oleh Sutardji Calzoum Bachri didukung pula oleh Franky Sahilatua dan Rieke Diah Pitaloka.
Puisi-puisi yang dipertunjukan dipilih dari 40 puisi Asrizal Nur yang lebih menyorot kondisi sosial politik kita. Kemirisan hati kita pada bangsa ini, terutama betapa sulitnya mencari seorang pemimpin. “Yang kita temukan selalu penguasa. Kendati partai-partai politik selalu mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa partainya akan melahirkan kader-kader pemimpin bangsa yang tangguh, bijaksana, bersih dan lain sebagainya. Ternyata yang muncul tetap penguasa,” tandasnya.
Hal itu, katanya, karena dalam tubuh partai, misi mereka adalah kekuasaan. Jika kekuasaan jadi tujuan, yang lahir bukan pemimpin tapi penguasa seperti ditulis dalam puisi “Percakapan Pohon dan Penebang”. Begitupun sensitifnya negeri kita terhadap bencana, lantaran kebringasan penguasa yang menebang hutan. Pepohonan lenyap, rimba jadi hamparan tandus.
“Bukankah sekalian alam selalu berzikir kepada Allah, setiap helai daun berzikir kepada Allah.
Berapa helai daun setiap ranting, setiap dahan, setiap pohon, setiap rumpun dan setiap rimba. Sebanyak itu ia berzikir kepada Allah. Pepohonan itu ditebang, rimba digundulkan dan manusia tak kuasa mengganti zikirnya. Lalu pohon berkata kami tak bisa berbuat apa-apa karena tak bisa berzikir, karena zikir kami telah ditebang,” paparnya.
Pertunjukan puisinya kali ini diharapkan tidak saja memperkaya khazanah dunia pertunjukan sastra kita, juga memberikan pencerahan pada Bangsa.
Selengkapnya...
25 Oktober 2009
Batik Indonesia, Seni, Tradisi, Hingga Penghidupan
Batik tak sekedar memindahkan motif atau warna dan mencetaknya diatas selembar kain. Tetapi batik adalah seni yang sarat filosofis, tradisi, keindahan, kreativitas, bahkan rekayasa hingga melahirkan batik-batik modern yang terus tumbuh.
Tak banyak anak-anak muda Indonesia yang tertarik menekuni batik. Padahal batik merupakan warisan budaya dunia asli Indonesia.
Oleh Andri OktaviaItu mengapa tak heran, jika lantas minat generasi muda yang kurang terhadap seni batik, menyebabkan beberapa negara berani mengklaim batik adalah warisan budaya nenek moyang mereka.
Secara masif, beberapa negara lantas mengklaim bahwa batik bermotif Indonesia itu, sebagai warisan budaya nenek moyang mereka, seperti Cina, Malaysia, Jepang, serta beberapa negara lain.
adverdreams bertemu dengan seorang pengusaha batik, pelaku mbatik, sampai perekayasa ragam dan motif batik-batik modern. Usianya baru 30 tahun. Namun,lelaki ini sudah melahirkan hingga 12 motif batik modern. Di tangannya, batik yang merupakan warisan budaya ini, menjadi ”berdaya”, sebagai sumber penghidupan. Dari situ, karena terus berupaya membuka lebar-lebar pintu kreativitasnya, sedikitpun dia tak merasa jengah jika lantas batik yang diklaim oleh beberapa negara tersebut membanjiri pasar dunia. Sebab, menurutnya negara-negara tersebut hanya punya kemampuan pragmatis menemukan pewarnaan batik secara modern, tidak lebih.
Filosofi, trik melahirkan karya-karya batik yang indah, serta originalitas, baginya jadi yang terpenting, jika bicara soal batik, dan hal ini tidak dimiliki oleh negara manapun.
Apalagi baginya, pemahaman batik itu sendiri tak sekedar memindahkan motif, corak dan warna ke atas selembar kain, melainkan mesti paham asal-usul, filosofis, pakem dan sebagainya.
Iwan Prasetyo, Lelaki yang lahir di Pekalongan dan lama tinggal di Bali ini, mau juga bercerita panjang lebar terkait budaya batik yang digelutinya semenjak kecil. Dia bahkan mulai ngerorot (salah satu tahap pengerjaan membatik-red), semenjak menginjakkan kaki di bangku SMP.Batik sebagai warisan budaya, urainya sudah berusia ratusan atau bahkan ribuan tahun. Kekhasan, keindahan, sampai mitos dari hadirnya motif-motif batik tradisional, jadi cerita yang justru lebih kuat ketimbang kata-kata ”batik” itu sendiri.
Usai ratusan tahun hadir sebagai warisan budaya yang tak ternilai, dulunya batik digunakan hanya dan oleh keluarga kerajaan terutama sebagai tanda mata bagi tamu-tamu mereka.
Itu mengapa lantas hadir berbagai motif batik yang berbeda sekaligus jadi penanda, dari daerah mana batik itu berasal. Beberapa motif batik lantas mulai dikenal, semisal Batik Sekar Jagat, Batik Rowo Kalong, Topo Nggantung, Joko Tingkir, dan sebagainya.
Sementara, terkait daerah penghasil batik, dikenal Batik Pekalongan, Solo, Jogja, Kebumen, Banyumas, Cirebon, Banyuwangi, Batik Bakaran- Pati, Batik Bali dan sebagainya. Yang menurut Iwan dapat mewakili batik-batik pesisir dan non pesisir.Pada batik-batik yang berasal dari darerah pesisir, seperti batik Pekalongan, Cirebon, Banyuwangi, Surabaya, dan sebagainya, terlihat karakter berani bermain di warna-warna kontras dan ngejreng, sesuai dengan karakter masyarakat pesisir, banyak menerima nilai dan berinteraksi dengan pihak luar temasuk bangsa pedagang lain, terutama Tionghoa.
Sementara, pada batik-batik daerah pegunungan seperti batik-batik Jogja, Solo, Kebumen, Banyumas dan sebagainya, akan lebih banyak bermain ke warna-warna alam, coklat, kuning gelap warna tanah dan sebagainya. Sesuai dengan masyarakatnya yang agraris, dan alam pegunungan yang mengilhami.
Motif batik yang masih ada hingga kini, menjadi manifestasi dari seni batik yang pernah eksis. Namun, sesungguhnya karena lahir dari aktivitas dan olah rasa para keluarga kerajaan mengisi waktu keseharian di istana, disamping indah dan mengandung ketelitian dalam membuatnya, batik akan selalu enak dilihat.
Lelaki yang sempat berjaya memutar roda bisnisnya di Bali ini, lantas berani menjamin bahwa motif dan ragam batik berdasarkan kerajaan yang pernah ada, sesungguhnya akan jauh lebih banyak, ketimbang motif batik yang ada sekarang ini.
Jika mau digali serius, akan ditemukan banyak motif batik yang masih terpendam. Beberapa daerah berhasil menemukan motif batik khasnya, seperti yang sudah dilakukan oleh Kerawang, Sragen, Banyumas, Sumatera, dan sebagainya.
Di balik seni dan motif batik, ternyata ada guratan cerita yang akan selalu menyertainya. Itu mengapa, kain batik yang membentang terkadang hingga bermeter panjangnya, akan berisi sebuah kisah atau cerita yang sarat dengan pesan di dalamnya.
Orang yang masih kuat memegang tradisi jawa, sangat mempercayai bahwa batik merupakan salah satu perlengkapan yang wajib dibawa kemanapun mereka pergi, kendati ke luar negeri sekalipun.
Batik ini sebagai sangu jika ajal memanggil. Mengenai jumlahnyapun ada yang mensyaratkan enam hingga tujuh macam kain batik. Kain ini yang nantinya digunakan untuk membalut jenazah Orang Jawa, ketika berpulang dipanggil Sang Pencipta.
Meski punya makna sakral sebagai pengantar atau perlengkapan kematian, tidak dikenal ritual khusus saat seorang mencipta batik. ”Setahu saya memang tidak ada ritual yang mesti dipersiapkan dalam membatik,” urai lelaki yang sudah mengekspor batik ke 12 negara ini.
Pada perkembangannya, batik sudah megikuti trend.Itu mengapa beberapa dekade terakhir industri berbasis kain-kain batik juga berkembang, lepas dari makna filosofis dari batik itu sendiri.
Di Bali misalnya, Motif-motif Batik Bali Modern yang dibuat mengikuti selera pasar juga berkembang, biasanya digunakan untuk kain-kain pantai. Seperti motif Bob Marley, Dolphin, Rasta. Padahal, Bali juga memiliki motif batik tradisionalnya sendiri, yang sebetulnya pantas diangkat kecuali memang komitmen yang kurang untuk mengangkatnya.
Baginya, bicara batik atas nama seni, membatik tradisional, melahirkan kreativitas dalam membatik, tak ada yang mampu menyamai indonesia. ”Bahkan, sampai tujuh turunan sekalipun,” urai lelaki yang menguasai puluhan motif batik tulis tradisional ini.
Hanya, bagi Indonesia jika ingin meniru apa yang dilakukan oleh negara lain terhadap batik, termasuk dengan teknik pewarnaan yang modern, ”kita jelas akan tertinggal,” urainya, sembari menyatakan teknik pewarnaan modern memang rekayasa bangsa lain.
Selengkapnya...
21 Oktober 2009
Sang Kepompong
Lagu Kepompong oleh Sindentosca sempat menjadi lagu yang populer bagi anak-nak muda indonesia khusunya saya juga menyukai lagu ini. Liriknya yang sederhana dan beatnya yang cukup menghentak menjadikan lagu ini mudah diingat dan diikuti. Tapi kalau saya perhatikan, saya yakin orang-orang menyukai lagu ini bukan semata-mata karena lirik dan beat-nya saja, lagu ini ternyata juga perwujudan dari satu tahapan dan proses penting dalam karir dan kehidupan mereka.
Kepompong adalah satu dari empat tahapan utama kehidupan seekor kupu-kupu. Pada tahapan ini seekor ulat yang tadinya aktif berubah menjadi kepompong yang tidak memiliki kemampuan untuk bergerak. Perubahan ini membutuhkan pengorbanan dan bukannya mudah. Secara fisik kulit sang ulat akan berubah menjadi basah dan mengkilap dan kemudian mengeluarkan serat yang membungkus tubuhnya. Pada saat serat terakhir selesai terjalin, maka pada saat itu pulalah proses metamorfosa terjadi. Sel tubuh sang ulat akan tumbuh dewasa sesuai dengan karakter seekor kupu-kupu. Sel-sel yang membentuk sayap akan berkembang demikian juga sel-sel lainnya yang penting seperti antena dan sel reproduksi (hebatnya, hanya dengan hinggap pada sebuah tanaman seekor kupu-kupu betina dapat menilai apakah tanaman tersebut dapat dijadikan tempat meletakkan telur dan menyediakan makanan bagi anak-anaknya). Tanpa makan dan diam tak bergerak seolah memerintahkan semua sel tubuhnya untuk bertransformasi. Tapi ini barulah pengorbanan yang pertama.
Pengorbanan selanjutnya adalah setelah 10-15 hari proses metamorfosa selesai dan sang kupu-kupu akan keluar. Suatu sobekan kecil akan dibuat untuk lubang keluarnya sang kupu-kupu. Kemudian sang kupu-kupu harus berusaha keluar dari sobekan kecil itu, proses ini bisa menyiksa dan memakan waktu puluhan menit. Kenapa bukan sobekan besar? Ya, kenapa bukan sobekan besar. Bukankan sobekan besar akan lebih memudahkan sang kupu-kupu untuk keluar tanpa bersusah payah dan menyiksa diri.Ternyata sobekan kecil ini memiliki fungsi sendiri.

Sang kupu-kupu harus memiliki sayap-sayap yang indah namun kuat agar dapat menantang angin. Sobekan kecil yang dibuat dan segala susah payah yang dilakukan sang kupu-kupu adalah untuk menghilangkan basah yang berlebih di sayapnya dan merenggangkan semua tulang-tulang sayapnya, sehingga dihasilkan sayap-sayap yang tangguh dan mampu membawanya terbang. Sang kupu-kupu paham bahwa walaupun dipunggungnya sudah tumbuh sayap-sayap, tapi sayap-sayap tersebut belum dapat berfungsi sempurna. Diperlukan suatu pengorbanan dan 'latihan' agar fungsi yang sempurna tersebut dapat diperoleh. (Percaya tidak, kalau kita membantu mengeluarkan sang kupu-kupu dengan menyobek kepompongnya maka yang ada adalah kupu-kupu dengan sayap yang kuncup dan tidak mau mengembang)
begitupun dengan kondisi saya saat ini bisa dikatakan sedang Membuat pengorbanan yang besar untuk bermetamorfosa. Tidaklah mudah memeras fisik dan pikiran untuk bertahan. Tapi saya yakin dan saya paham bahwa semua pengorbanan ini dibuat untuk menjadikan saya dewasa bukan hanya secara fisik dan mental akan tetapi juga dewasa dalam arti memiliki sudut pandang yang lebih luas dalam melihat permasalahan konservasi yang sangat pelik. saya tahu bahwa saya membutuhkan metodologi yang lebih lengkap untuk membuat saya mampu mengatasi tantangan yang ada, dan saya perlu mengasah kemampuan berpikir yang lebih kritis dan kreatif agar dapat memberikan solusi terbaik bagi ancaman yang saya hadapi. Sama seperti sang kupu-kupu yang bertapa selama beberapa waktu dan bersusah payah keluar dari lubang kecil di kepompongnya untuk mendapatkan sayap-sayap yang kuat agar dapat menunaikan tugasnya selanjutnya. 
Saya ingat tulisan yang dibuat oleh soerang bloger ia menuliskan artikel tentang Paulo Coelcho seorang penulis (novelis) dari Brazil. dalam artikelnya ia menuliskan:
The Alchemist. "The process of a butterfly squeezing out of a tiny hole on its pupa is nature’s way of training the butterfly and of strengthening its wings. Sometimes, a little extra effort is precisely what prepares us for the next obstacle to be faced. Anyone who refuses to make that effort, or gets the wrong sort of help, is left unprepared to fight the next battle and never manages to fly off to their destiny."
(Proses seekor kupu-kupu mengerutkan badannya melalui sebuah lubang kecil di kepompongnya adalah cara alam untuk melatih kupu-kupu tersebut untuk memperkuat sayap-sayapnya. Seringkali, sebuah upaya kecil tambahan adalah hal yang tepat untuk menyiapkan kita kepada tantangan selanjutnya yang akan kita hadapi. Siapa saja yang menolak untuk melakukan upaya tersebut, atau mendapatkan bantuan yang salah, akan tidak siap menghadapi pertempuran selanjutnya dan tidak akan pernah mampu untuk terbang menuju kepada takdirnya)
saya yakin suatu ketika nanti, saya akan menjadi kupu-kupu yang memiliki sayap-sayap indah dan kuat, untuk menunaikan tugasku
Selengkapnya...
MempertimbangkanTradisi Puisi Rendra
Teks puisi yang pernah ditulis W.S. Rendra sepanjang hidupnya memperlihatkan satu episode penyempurnaan terus menerus sampai pada titik dimana teks puisinya merupakan pergulatan yang terpaut erat dengan sang penyair. Sebagaimana banyak diketahui, Rendra dengan puisinya adalah kesatuan yang saling mengandaikan.
Latar belakang Rendra sebagai dramawan tentunya memiliki sumbangan besar. Bukan saja sumbangan itu pada kebutuhan teaterikal dalam pembacaan puisi di atas panggung, tapi yang lebih mendasar bagaimana pergulatan Rendra untuk mencari landasan berkesenian yang benar-benar berada di jantung kulturalnya. Kesenian bagi Rendra, secara khusus pada teater, adalah masalah pergulatan mendalam dirinya untuk mengetahui dan mendalami tentang tubuh serta kejiwaannya sebagai dasar sebelum ia melakonkan sebuah naskah di atas panggung. Persoalan tubuh dan jiwa pada Rendra mengakar pada kultural Jawa. Pengertian Jawa pada Rendra disini merentang dari Jawa kuno hingga Jawa Mataraman Abad 18.
Pergulatan tubuh dan jiwa dalam diri Rendra memiliki pengaruh yang kuat dalam karya-karya puisinya. Pada awal-awal puisinya sebagaimana dalam kumpulan Ballada Orang-Orang Tercinta, Sajak-Sajak Dua Belas Perak, Nyanyian dari Jalanan, dan Malam Stanza merupakan gambaran ketika ia begitu terpesona pada alam. Aspek dolanan anak-anak desa di Jawa menjadi inspirasi sekaligus konteks kultural bagaimana puisi-puisi tersebut tercipta. Dalam dolanan anak-anak yang menjadi perhatian keharmonisan antara manusia dan alam. Alam tidak lain pemangku dari manusia sehingga manusia bisa merasakan kedamaian dan selaras dengan alam. Puisi-puisi Rendra ini ungkapan dari keterpesonaan manusia sebagaimana anak kecil terhadap alam. Alam sebagai ibu dari semesta.
Namun demikian, sifat alam tidak abadi. Alam terus-menerus berubah sebagaimana keharmonisan pada anak-anak kecil akan meluntur terhadap alam seiring perkembangan usia dan cara berpikirnya. Alam adalah fana. Pemikiran akan realitas yang baru ini mengubah kesadaran individu dengan cara menghayati alam secara lebih tinggi ke tahap transendental. Di atas alam yang maya ini terdapat sesuatu yang lebih kuat, agung, dan berkuasa. Kesadaran akan alam yang transendental ini pada diri Rendra terungkap dalam puisi-puisi Masmur Mawar dan Kakawin Kawin.
Dalam puisi-puisi ini gambaran alam tidak setentram dalam puisi-puisi sebelumnya. Alam dimaknai sebagai bentuk tahap bawah, sementara tahap yang lebih atas lagi yaitu pada kesadaran akan sesuatu yang abadi melampaui alam yang fana ini. Namun, penggunaan istilah-istilah keagamaan Kristiani sebagaimana “masmur” tidak berarti ia menggunakan nilai keagamaan dalam pengertian formal. Keagamaan yang ada dalam puisi Rendra pada episode ini diambil dari perjumpaannya dengan alam. Gagasan semacam ini telah Rendra uraikan pada Tahun 1982 dalam artikelnya berjudul “Latihan Sultan Hamengkubuwono I di Masa Remaja”. Dalam kisah ini, Sri Sultan sebelum mendirikan Kerajaan Mataram berkelana menghilangkan status sosialnya sebagai bangsawan dan menyelinap di tengah-tengah rakyat di lereng. Pada masa remaja ini Sri Sultan menghayati kehidupan bukan melalui ajaran-ajaran yang resmi dimiliki Keraton Surakarta tetapi langsung berada bersama badan dan jiwanya ke kehidupan nyata.
Lebih matang
Pergulatan Rendra menuju masa-masa yang lebih tinggi, kemudian semakin menunjukkan perkembangan dengan menjawab berbagai tantangan yang muncul di wilayah sosial. Spirit puisi-puisi Rendra tetap mendasarkan keberadaannya pada pemahaman yang digali dari tubuh dan jiwa. Tetapi puisi-puisinya tidak lagi bicara pada hal yang personal ketika si penyair sibuk dengan dunia batinnya sendiri. Seperti banyak diketahui, ranah sosial menjadi bagian utama dibandingkan dengan ranah personal. Kenyataan yang praksis dan bukannya metafisis, menjadi tema utamanya. Pada tahap ini Rendra seolah seorang resi turun gunung, tuntas dengan pergulatan personalnya. Ia terlihat lebih matang secara personal. Ada desakan untuk bicara kehidupan manusia di sekelilingnya. Karena itu, menjadi tepat untuk melihat perkembangan yang matang secara personal ini ketika ia menulis tema-tema sosial dalam kumpulan puisi Sajak-Sajak Sepatu Tua.
Rendra tidak hanya perlu menanggapi kepincangan-kepincangan yang terjadi di ranah sosial masa Orba, tetapi memang Rendra telah cukup dalam soal kepribadiannya. Dalam pengertian lain, tanggapannya terhadap kepincangan sosial bukan saja sebagai seorang yang tidak betah dengan keadaan masyarakat yang diliputi ketidakadilan, tetapi memang orang tersebut telah “layak” untuk bicara sesuatu diluar dirinya setelah menyelaraskan hal-hal pribadi. Keterpanggilan untuk menyuarakan ketidakadilan ini tidak menyurutkan Rendra ketika ia harus berhadapan dengan tekanan rezim Orba. Ia dengan konsisten menyuarakan masalah ketidakadilan tanpa rasa takut.
Ketetapan hati Rendra ini semakin terlihat pada kumpulan puisi Potret Pembangunan Dalam Puisi. Pada kumpulan ini dengan melihat waktu penulisannya antara Tahun 1971-1978, jelas istilah “pembangunan” yang dimaksud tidak lain pembangunan yang menjadi slogan Orde Baru. Posisi sosial Rendra tanpa ragu-ragu berpihak pada rakyat yang menjadi korban dari pembangunan itu sendiri. Episode ini berlanjut ke episode berikutnya Rendra secara oposisional berhadapan dengan pemerintah sekalipun ia tidak mengambil jalan destruktif. Dengan setia ia suarakan lewat kesaksiannya bagaimana penderitaan yang dialami rakyat. Kesaksian ini dengan setia Rendra lakoni hingga Soeharto jatuh pada Tahun 1998.
Rendra sepanjang kepenyairannya tidak lain sebuah jalan penyempurnaan diri untuk menggapai suatu sikap yang benar-benar utuh. Apa yang terjadi dalam dirinya tergurat juga dalam karya-karyanya. Tiada jarak antara diri yang menulis dengan diri yang tertulis. Dan puncak kepenyairan Rendra teraih ketika ia dengan tegas menempatkan dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dimana dia hidup. Sebuah kesadaran yang lahir dari paduan kepribadian yang utuh dengan rasa kepedulian dengan sesamanya di dunia.
Selengkapnya...
Jero Wacik, Keris, Batik, Wayang dan Unesco
Ada pernyataan menarik ketika Jero Wacik mengunjungi pameran Tosan Aji di PKJ-TIM sebelum mengakhiri masa tugasnya sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Periode 2004-2009. “Keris itu, bikinnya saja susah. Harus pakai proses ritual dulu. Sekarang perlu dipikirkan bagaimana caranya agar warisan budaya bangsa ini diminati generasi muda untuk melestarikannya,” ungkap Jero Wacik saat mendengarkan penjelasan seorang pembuat keris.
Menurut Jero Wacik, untuk melestarikan warisan budaya ini, memang diakuinya tidak mudah. Disinilah perlunya peran serta para seniman dan akademisi bidang seni untuk mencari upaya yang tepat dalam pelestarian tersebut. Seharusnya keris tidak hanya dipandang sebagai hiasan pada saat acara hajatan dan festival-festival kesenian saja. Sebaiknya keris sering dijadikan cinderamata untuk berbagai kegiatan. “Bagi kita orang-orang tua, sebaiknya kita punya keris untuk memperindah ruangan rumah kita. Misalnya kita tempel di dinding. Ini juga salah satu upaya pelestarian, lo,” jelasnya.
Peket
Pelestarian warisan budaya bangsa kita juga harus dilakukan terhadap wayang. Pelestarian kesenian yang satu ini, menutut Jero Wacik, juga sangat sulit ditengah arus modernisasi budaya pop. Metodenya harus dirumuskan oleh para seniman dan akademisi dibidang seni itu sendiri, bagaimana caranya agar wayang disukai kaula muda atau masyarakat luas. “Mungkin salah satunya dengan memasukkan cerita-cerita menarik sesuai jaman sekarang ini. Atau dikolaborasi dengan kesenian lain tanpa harus meninggalkan pakemnya. Pokoknya cari terobosan barulah,” tandas Jero Wacik.
Ini harus dipikirkan..Termasuk bagaimana caranya agar anak-anak muda berminat mempelajari atau memainkan wayang. Jero Wacik merasa sedih kalau lihat acara-acara hajatan di kampung-kampung banyak warga lebih menyukai musik modern seperti band atau musik dangdut ketimbang kesenian tradisional. “Kalau sudah diklaim negara lain, kita baru merasa memiliki,” sindirnya.
Pada sisi lain, dia dengan bangga mengatakan, bahwa sekarang ini Unesco sudah mengakui keris, wayang dan batik milik bangsa Indonesia. Sertifikat pengakuan itu akan diberikan pada November ini. Dengan demikian Malaysia tidak bisa lagi mengakui warisan budaya kita itu sebagai miliknya.
Kedepan, ujar Jero Wacik, Presiden SBY akan mengusulkan kita memiliki batik yang khas yang sekaligus sebagai upaya pelestarian wayang dan keris. Presiden mengusulkan ada baju batik yang desainnya menggunakan motif wayang dan keris. “Jadi kita punya upaya melestarikan budaya kita dalam satu paket. Ada batiknya, ada kerisnya dan ada wayangnya,” kelakarnya.
Tidak Perlu
Jero Wacik berharap agar masyarakat yang ingin menyelenggarakan festival-festival kesenian sering berhubungan dengan departemennya. “Departemen Budpar siap bantu, kok. Doakan saja tahun depan anggarannya akan bertambah. Saya akan siap bantu. Tapi kalau saya terpilih lagi, ya. Mudah-mudahan saja, ya. Dan doakan, ya,” kelakarnya.
Pada sisi lain dia merasa tidak setuju dengan adanya usulan beberapa pihak agar departemennya dipecah menjadi dua departemen. Yakni departemen kebudayaan dan departemen pariwisata.”Gak perlulah. Nanti kebanyakan menteri. Cukup satu departemen saja seperti sekarang ini, ya. Kita akan tetap perhatikan semua kegiatan kebudayaan. Makanya doakan, ya agar saya bisa duduk jadi menteri budpar lagi ” kelakarnya lagi disambut tawa panitia penyelenggara pameran tosan aji yang mengelilinginya
Selengkapnya...





